Peranan Inokulan MVA dan Pupuk Pelengkap Cair Organik terhadap hasil Kedelai

Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perbaikan pendapatan perkapita. Oleh karena itu, diperlukan suplai kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat mencukupi kebutuhan tersebut. Lahan budidaya kedelai pun diperluas dan produktivitasnya ditingkatkan. Untuk pencapaian usaha tersebut, diperlukan pengenalan mengenai tanaman kedelai yang lebih mendalam.

Komposisi kimia biji kedelai kering per 100 gram yakni 331,0 kkal kalori, 34,9 g protein, 18,1 g lemak, 34,8 g karbohidrat, 227,0 mg kalsium, 585,0 mg fosfor, 8,0 mg besi, 110,0 SI vit A, 1,1 mg vit B, dan 7,5 g air . Di samping itu, kadar asam amino kedelai termasuk paling lengkap. Tiap satu gram asam amino kedelai mengandung 340 mg Isoleusin, 480 mg Leusin, 400 mg Lisin, 310 mg Fenilalanin, 200 mg Tirosin, 80 mg Metionin, 110 mg Sistin, 250 mg Treonin, 90 mg Triptofan, dan 330 mg Valin ( Sumarno, 1987).

Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.

Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Biji kedelain dapat diolah antara lain menjadi tahu (tofu), tempe, taosi, tauco, tepung kedelai, bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam), susu kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa), minyak (dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel).

Produktivitas rata-rata kedelai nasional masih rendah, tahun sejak 2007 mencapai 13,07 ku/ha atau 1,3 ton/ha. Potensi hasil ditingkat penelitian dan percobaan mencapai 2 ton atau lebih Senjang hasil masih tinggi antar ditingkat petani dan penelitian, sedangkan angka konsumsi kedelai dalam negeri cukup besar. Kebutuhan kedelai tahun 2012 mencapai 1,2 juta ton.  Berdasarkan Badan Pusat Statistik, luas tanaman pangan non-beras Indonesia periode tahun 1995-2014 terus menurun. Luas panen kedelai turun dari 1,48 juta ha menjadi 728.200 ha. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan lahan yang tersedia untuk budidaya pangan non-beras, khususnya kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih harus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahun ke tahun, produksi dalam negeri masih relatif rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun. Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat (BPS 2015).

Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas SDM Indonesia Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan akan kedelai semakin meningkat.  Pada tahun 1998 konsumsi per kapita baru 9 kg/tahun, kini naik menjadi 10 kg/th Dengan konsumsi perkapita rata-rata 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan 2 juta ton lebih  per tahun. Untuk itu diperlukan program khusus peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Produksi kedelai pernah mencapai 1,86 juta pada tahun 1992 (tertinggi) kemudian turun terus hingga tahun 2014 hanya 0,8 juta ton. Kedelai mengalami penurunan produksi, disebabkan baik oleh kondisi curah hujan yang cukup tinggi dan kurangnya kepastian harga di tingkat petani sehingga petani kurang bergairah menanam kedelai.

Untuk mendorong peningkatan produksi kedelai sejak tahun 2008, akan dilaksanakan Program dan Aksi Peningkatan Produksi Kedelai Nasional Tahun 2008 dengan sasaran produksi 1.064.000 ton dengan luas tanam 800.000 ha, luas panen 760.000 ha dan produktivitas rata-rata 14,00 kg/ha. Sasaran produksi kedelai tahun 2008 belum dicapai melalui strategi yaitu : Peningkatan Produktivitas, Perluasan Areal Tanam, Pengamanan Produksi dan Penguatan Kelembagaan dan Dukungan Pembiayaan, BPS 2015).

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai dapat ditempuh dengan pemberian pupuk.  Di dalam tanah  terutama tanah-tanah yang diusahakan secara intensif mempunyai kadar unsur hara esensial yang  rendah, terutama unsur hara nitrogen (N), sedangkan fosfor (P), dan kalium (K) yang cukup, namun belum tersedia bagi tanaman, sehingga perlu penambahan unsur hara melalui pemupukan (Darmawijaya, 1992). Untuk mengatasi masalah tersebut, perbaikan kesuburan tanah banyak dilakukan  dengan jalan menambahkan bahan pupuk baik organik maupun anorganik yang bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman secara optimal.

Pemupukan yang biasa dan kebanyakan dilakukan  petani hanya melalui tanah, sehingga unsur hara  yang diberikan diserap oleh akar tanaman, kemudian  ditransformasi menjadi bahan-bahan yang berguna bagi  pertumbuhannya. Pemupukan melalui tanah tersebut kadang-kadang  kurang bermanfaat, karena beberapa unsur hara telah larut lebih dahulu dan hilang bersama air perkolasi atau  mengalami fiksasi oleh koloid tanah, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.

Upaya yang dapat ditempuh  agar pemupukan lebih efektif dan efisien adalah dengan  menyemprotkan larutan pupuk melalui daun tanaman. Pemberian  pupuk daun tersebut dapat memperbaiki pertumbuhan,  mempercepat panen, memperpanjang masa atau umur  produksi, dan dapat meningkatkan hasil tanaman (Bethlenfalvay, et al. 1991).

Setiap tahun ribuan hektar lahan yang subur berkurang akibat penggunaan pupuk kimia. Sungguh ironis, menggunakan racun untuk meningkatkan produksi pangan bagi kehidupan. Tidak heran bila kesehatan dan daya tahan tubuh manusia terus menurun. Sebaliknya penggunaan pupuk organik tidak meninggalkan residu yang membahayakan bagi kehidupan. Penggunaannya mampu memperkaya sekaligus mengembalikan ketersediaan unsur hara bagi tanah dan tumbuhan dengan aman.

Kemudian dihapusnya pupuk oleh pemerintah menimbulkan masalah mengenai pembiayaan dalam pengadaan pupuk Super Posfat. Mahalnya harga pupuk Super Posfat menyebabkan perhatian beralih pada penggunaan pupuk batuan posfat (BP). Meskipun BP lambat tersedia. Sehingga penggunaan pupuk hayati yang bertumpu pada penggunaan organisme tanah yang ramah lingkungan juga banyak mendapat perhatian (Sharma et al., 2004). Salah satu jamur yang dapat digunakan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman adalah mikoriza.

Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman diperlukan masukan dalam bentuk pupuk anorganik yang harus disertai dengan pupuk organik. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif yang dapat menghasilkan produk yang diterima konsumen, ramah lingkungan dan untuk mengatasi kendala tanah masam.  seperti pemanfaatan cendawan mikoriza arbuskular vasikular (MVA).

Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman (Brundrett, et al 1996). Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas, baik dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebarannya (Schinner, 1996). Umumya mikoriza dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu: endomikoriza (pada jenis tanaman pertanian), ektomikoriza (pada jenis tanaman kehutanan), dan ektendomikoriza (Harley and Smith, 1983).  Setiadi (2003), menyebutkan bahwa mikoriza juga sangat berperan dalam meningkatkan toleransi tanaman terhadap kondisi lahan kritis, yang berupa kekeringan dan banyak terdapatnya logam-logam berat sehingga dapat meningkatkan penyerapan jumlah P yang tersedia bagi tanaman, sedangkan pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian MVA dan PPC terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max (L.) Merr.) pada tanah Inceptisols Jatinangor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi petani maupun pengusaha di bidang pangan, khususnya kedelai sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto dan Indarto, 2004.  Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Pajang, Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Absolut. Yogyakarta.

Bethlenfalvay, G. J., M.G. Reyes-Solis, S.B. Camel and R. Ferrera-Cerrato. 1991.  Nutrient transfer between The root Zones of soybean and maize plants.  Connected by a Common Mycorrhizal Mycelium. Physiol.  Plant 82, 423 – 432.

Biro Pusat Statistik. 2015.  Luas Lahan Kedelai di Indonesia.  Jakarta.

Brundrett, M. N. Bougher, B Dell. T. Grove and N. Malajczuk. 1996.  Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture. ACIAR Monograph 32:374p.

Darmawijaya, 1992.  Budidaya tanaman Kacang-kacangan.  Bina Aksara, Jakarta.

Harley, J. L. and M. S. Smith. 1983.  Mycorrhizal Syimbiosis. Academic Press, Inc. New York. 483 p.

Schinner. 1996. An evaluation of techniques for measuring vesicular arbuscular mycorrhizal infection in roots. New Phytol. 84:489-500.

Setiadi Y. 2003. Arbuscular Mycorrhizal Inoculum Production.  Program dan Abstrak Seminar dan Pameran. Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endo-ektomikoriza untuk pertanian, perkebunan dan kehutanan. 16 September 2003. Bandung. p. 10.

Sharma et al., 2004.  Nutrien Uptake in Mycorrhiza activities, J. Plant and Soil. 158 : 72.

Sumarno. 1987. Kedelai dan Teknik Budidayanya.  Balai Penelitian Tanaman Bogor.

Taiz dan Zeiger (2002.  An apparent increase in symplasmic in water contributes to greater turgor in mycoffhizal roots of droughted Rice Plant. New Phytol. 115, 285-295.

Wisnu Cahyadi. 2007.  Pemanfaatan Mikoriza untuk Aplikasi di Lahan Marginal.  Litbang Pertanian. Bogor.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code